Senin, 30 Januari 2017

Bentuk Koran Terkecil di Dunia

Pernahkah anda membaca koran atau surat kabar? tentu pernah ya meskipun hanya koran bekas gorengan. tapi tahukah kamu bahwa koran kali ini lain dari yang lain, koran ini memiliki ukuran yang mini dan terbilang sangat kecil.


Koran terkecil didunia

Ya, Koran terkecil didunia ini adalah surat kabar yang paling kecil yang pernah diciptakan oleh manusia hingga saat ini. Kalau anda sering membaca koran yang ukurannya besar mungkin sudah biasa tapi jika anda membaca koran terkecil ini maka anda mungkin memerlukan kaca pembesar untuk melihatnya.

Koran atau surat kabar pada umumnya dicetak di atas kertas berukuran AO atau A3. Tapi, koran terkecil didunia terbitan First News ini dicetak di kertas yang berukuran sangat kecil. Bahkan lebih kecil dari kamus saku! Menariknya, meskipun berukuran mini, hasil cetakannya Surat kabar ini cukup jelas dan rapi dari tulisan hingga gambar.

Dibawah ini adalah gambar dari koran terkecil didunia.

Koran terkecil didunia

Koran terkecil didunia

Koran terkecil didunia

Koran terkecil didunia

Koran terkecil didunia

Karpet Canggih Ini Bisa Ngecas Smartphone

Di era yang serba digital, apa saja bisa dilakukan hanya dengan sentuhan jari. Setidaknya sampai baterai di perangkat canggih Anda terisi penuh. Namun masalahnya, belum ada vendor smartphone yang mampu menciptakan baterai tahan lama.


Anda tak perlu khawatir karena saat ini sekelompok ilmuwan tengah mengembangkan karpet berbahan fleksibel yang dapat mengisi baterai smartphone dan laptop. Listrik yang dihasilkan dari karpet tersebut dapat diperoleh dari gerakan-gerakan seperti langkah kaki di atas karpet.

Teknologi ini sendiri dijuluki 'photovoltaic-piezoelectric' yang sudah dipatenkan oleh University of Bolton dalam proyek `Institute for Materials Research and Innovation`.

Tak hanya karpet, bahan photovoltaic-piezoelectric juga bisa ditenun menjadi pocket atau tas untuk menaruh gadget kesayangan. Dengan demikian, Anda dapat menggunakan perangkat canggih di mana saja.

"Kami mengembangkan material ini karena sumber energi terbarukan seperti sinar matahari, angin, dan hujan tidak selalu tersedia pada saat yang sama dan lokasi yang sama," kata Profesor Siores selaku pimpinan proyek ini, seperti dikutip dari Mail Online, Rabu (26/2/2014). Bahan hibrida tersebut, lanjut Siores, menggabungkan bahan photovoltaic fleksibel, yang memanfaatkan energi matahari dengan serat piezoelektric fleksibel yang menghasilkan daya melalui gerakan.

"Kombinasi ini memungkinkan material menghasilkan daya dalam segala kondisi cuaca dan lingkungan. Kemudian kedua material itu bisa dirajut atau ditenun menjadi struktur material yang lebih besar, seperti tirai jendela atau tenda camping.

Teknologi inovatif ini akan ditampilkan di ajang Innovation Leaders Conference (ILC) di Cambridge University akhir pekan ini.